• Selamat Datang di BBPMP Provinsi Sumatera Barat
  • Kepala Bagian Umum BBPMP Provinsi Sumatera Barat yang mewakili Kepala BBPMP Provinsi Sumatera Barat membuka kegiatan Instrumen Monitoring Penjaminan Mutu Satuan Pendidikan di Aula Angku Syafe'i BBPMP Provinsi Sumatera Barat, 13 - 14 November 2025.
  • Advokasi oleh tim BBPMP Provinsi Sumatera Barat kepada Pemerintah Daerah agar Pemerintah Daerah mengakses Rapor Pendidikan.
  • Coaching Clinik Perencanaan Berbasis Data kepada Satuan Pendidikan jenjang PAUD di Kabupaten Agam.
  • Monitoring TIM BBPMP Provinsi Sumatera Barat kepada Satuan Pendidikan, sekaligus mendapatkan informasi kendala yang dialami Satuan Pendidikan dalam mengakses dan mengunduh Rapor Pendidikan.
  • Advokasi BBPMP Provinsi Sumatera Barat kepada Pemerintah Daerah agar delta asesmen nasional meningkat.
  • Advokasi PBD Satuan Pendidikan kepada PMO Tata Kelola di Dinas Pendidikan dan Komunitas Belajar.
  • Coaching Clinik Perencanaan Berbasis Data kepada Satuan Pendidikan jenjang PAUD di Kabupaten Pasaman.
  • Tim Monitoring BBPMP Provinsi Sumatera Barat mengunjungi SMP Negeri 13 Muaro Sijunjung untuk mendapatkan data pelaksanaan PBD di satuan pendidikan.
  • Tim Monitoring BBPMP Provinsi Sumatera Barat mengunjungi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi untuk mendapatkan data pelaksanaan PBD di satuan pendidikan.

Monday, November 17, 2025

Potret Nyata di Balik Capaian Rapor Pendidikan Sumatera Barat Jenjang SMA Tahun Ini

 

Foto: sumbarkita.id

Jika mutu pendidikan SMA di Sumatera Barat diibaratkan sebuah panggung besar, maka tahun 2025 adalah momen ketika tirai terbuka dan menampilkan sebuah pertunjukan: pertunjukan stabilitas, kompetisi, dan sinyal kuat tentang masa depan yang kian menjanjikan.

Angka-angka capaian Rapor Pendidikan bukan sekadar data—mereka adalah denyut nadi, petunjuk arah, dan potret hidup dari perjalanan panjang pendidikan di ranah Minang.

Dan berikut adalah analisis lengkap yang akan membuat kita semakin memahami betapa pentingnya capaian tahun ini.

1. Literasi: Mesin Keunggulan yang Tetap Menyala

Dengan capaian 78,34%, literasi SMA Sumatera Barat kembali membuktikan diri sebagai pilar keunggulan. Meski hanya naik 0,45 poin, angka ini menunjukkan stabilitas yang luar biasa di tengah perubahan kurikulum, adaptasi pembelajaran digital, dan dinamika kehidupan siswa.

Maknanya, SMA Sumbar tidak hanya membaca kata—tetapi juga membaca zaman.
Dan hasilnya: peringkat menengah atas nasional!

2. Numerasi: Melonjak dengan Gagah—Naik 2,61 Poin!

Ini bukan sekadar kenaikan. Ini adalah bukti bahwa logika, analisis, dan kemampuan berpikir matematis para siswa SMA Sumbar sedang menanjak dengan momentum kuat.

Dengan capaian 74,64%, Sumbar kembali menjejakkan kaki di peringkat menengah atas nasional, menantang provinsi lain dalam kompetisi numerasi.

Ini sinyal besar: Intervensi numerasi bekerja. Guru semakin adaptif. Siswa semakin kritis.
Dan SMA Sumbar siap melaju lebih jauh.

3. Kualitas Pembelajaran: Penurunan Halus yang Tidak Boleh Diremehkan

Meski berada di kategori BAIK, capaian 62,86 mencatat penurunan 1,37 poin dari tahun sebelumnya. Penurunan ini mungkin kecil, tetapi menjadi alarm halus bahwa ada roda dalam sistem pembelajaran yang mulai melambat.

Apa artinya; ada ruang refleksi bagi guru. Penguatan supervisi perlu ditingkatkan dan Pembelajaran Berdiferensiasi perlu lebih konsisten

Namun tetap: SMA Sumbar masih berada pada peringkat menengah atas nasional. Ini bukti bahwa fondasi tetap kokoh, meski beberapa bata perlu diperbaiki.

4. Iklim Keamanan: Menurun, Tapi Tetap dalam Zona Baik

Dengan capaian 71,79 dan penurunan 1,36 poin, iklim keamanan menjadi salah satu indikator yang perlu perhatian khusus. Dalam era digital dan dinamika sosial yang kompleks, keamanan sekolah bukan lagi sekadar bebas dari kekerasan fisik—tetapi juga emosional, sosial, dan digital.

Kabar baiknya; SMA di Sumbar tetap berada di peringkat menengah atas nasional.
Artinya, sekolah masih menjadi ruang yang relatif aman—namun membutuhkan penguatan regulasi internal, sistem pelaporan, dan kepedulian warga sekolah.

5. Iklim Kebinekaan: Penurunan Terbesar yang Harus Disikapi Serius

Inilah indikator yang paling mencuri perhatian. Capaian 71,71, turun 1,83 poin, menempatkan Sumbar di peringkat menengah nasional (41–60%). Ini bukan hanya data—ini peringatan; dialog antarbudaya perlu diperluas. Praktik toleransi harus diperkuat dan sekolah perlu menjadi laboratorium kebinekaan yang hidup

Di tengah arus polarisasi nasional, penurunan ini patut menjadi prioritas intervensi.

6. Iklim Inklusivitas: Cahaya Cerah yang Terus Meningkat

Dengan capaian 60,59 dan kenaikan 1,13 poin, SMA Sumbar membuktikan bahwa mereka semakin ramah terhadap perbedaan kebutuhan belajar siswa.
Ini langkah maju menuju sekolah yang bukan hanya mengajar—tetapi juga merangkul.

Peringkat nasional? Masih menengah atas—sebuah prestasi di tengah tantangan implementasi pembelajaran berdiferensiasi.

SMA SUMBAR 2025 — KUAT, KOMPETITIF, DAN SIAP MENANJAK

Jika seluruh data ini dirangkum dalam satu kalimat, maka jawabannya adalah:

“SMA Sumatera Barat sedang berada dalam fase emas stabilitas—kuat dalam kompetensi, kompetitif di tingkat nasional, dan siap menanjak lebih tinggi dengan sedikit polesan di beberapa area kunci.”

Tiga fakta yang tidak terbantahkan:

  1. Sumbar tetap menjadi pemain kuat di tingkat nasional, terutama dalam literasi dan numerasi.
  2. Beberapa indikator iklim sekolah menurun, tetapi masih berada dalam kategori BAIK dan sangat mungkin ditingkatkan kembali.
  3. SMA Sumbar memiliki modal besar untuk masuk TOP 20 nasional, jika pembenahan dilakukan pada pembelajaran, keamanan, dan kebinekaan.

Tahun 2025 menjadi bukti bahwa Sumatera Barat bukan sekadar mengikuti arus pendidikan nasional—tetapi ikut menggerakkannya.***
(Ariasdi-BBPMP Sumbar)

Sunday, November 16, 2025

Potret Kesiapan Satuan Pendidikan di Sumatera Barat dalam Mengakses Rapor Pendidikan 2025

 
Grafik aktivitas satuan pendidikan dalam mengunduh Rapor Pendidikan 2025

Padang, 17 November 2025

November 2025 menghadirkan sebuah kabar baik dalam ekosistem pendidikan di Provinsi Sumatera Barat. Sebuah grafik sederhana namun kuat menunjukkan bahwa hampir seluruh satuan pendidikan—dari PAUD hingga SKB—telah siap memanfaatkan layanan digital melalui akun belajar.id. Kepemilikan dan aktivasi akun yang mencapai seratus persen memperlihatkan bahwa transformasi digital bukan lagi sekadar wacana, melainkan telah menjadi budaya baru dalam menjalankan layanan pendidikan.

Namun, tidak berhenti di sana. Ketika berbicara tentang pemanfaatan akun tersebut untuk mengakses Rapor Pendidikan, gambaran yang muncul menjadi lebih berwarna.

Pada jenjang SMP, SMA, SMK, SLB, dan SKB, tingkat login maupun unduh Rapor Pendidikan nyaris menyentuh angka sempurna. Ini menunjukkan kesadaran kuat bahwa Rapor Pendidikan bukan hanya dokumen administrasi, melainkan kompas penting dalam mengambil keputusan perbaikan mutu sekolah. Para operator, kepala satuan, dan guru tampak semakin memahami bahwa data adalah pondasi perubahan.

Di sisi lain, jenjang PAUD dan PKBM masih menghadapi tantangan. Persentase login dan unduh rapor yang berada di kisaran lima puluh persen mengisyaratkan bahwa sebagian satuan pendidikan masih memerlukan dukungan lebih—baik dalam literasi digital maupun pendampingan teknis. Sementara itu, jenjang SD berada di posisi menengah; cukup baik, tetapi masih menyisakan ruang untuk peningkatan.

Meski begitu, gambaran keseluruhan tetap menunjukkan arah positif. Peta digital pendidikan Sumatera Barat bergerak ke arah yang lebih matang, lebih siap, dan lebih berorientasi pada data. Dengan peningkatan pendampingan pada jenjang PAUD, SD, dan PKBM, bukan tidak mungkin seluruh jenjang pendidikan akan mampu mencapai tingkat pemanfaatan platform digital yang merata.

Rapor Pendidikan bukan sekadar laporan; ia adalah cermin yang menuntun langkah kita menuju pendidikan yang lebih berkualitas. Dan grafik ini membuktikan bahwa sebagian besar satuan pendidikan telah siap melangkah jauh lebih cepat.***
(Ariasdi-BBPMP Sumbar)

Friday, November 14, 2025

Analisis Menarik: Aktivitas Satuan Pendidikan dalam Aplikasi Rapor Pendidikan 2025


Grafik perkembangan aktivitas Satuan Pendidikan di Portal Rapor Pendidikan 2025

Data aktivitas satuan pendidikan dalam menggunakan Aplikasi Rapor Pendidikan sepanjang tahun 2025 menunjukkan sebuah cerita menarik tentang perubahan perilaku digital, kesadaran mutu, dan gerak kolaboratif satuan pendidikan di Sumatera Barat.

1. Awal yang Lambat, Namun Penuh Harapan
Pada catatan pertama di 13 Maret 2025, tingkat login dan unduh instrumen masih berada di angka 0%. Ini adalah fase di mana sosialisasi kemungkinan baru dilakukan, dan sekolah masih menunggu arahan atau menyesuaikan jadwal kerja.

Namun hanya sehari setelahnya, lonjakan signifikan mulai muncul. Login naik menjadi 18%, unduh melonjak ke 14%. Ini menunjukkan bahwa ketika kanal komunikasi dibuka atau instruksi mulai turun, satuan pendidikan merespons dengan cepat.

Dari pertengahan Maret hingga April, angka login dan unduh terus meningkat perlahan namun konsisten. Setiap hari ada kenaikan, meski dalam persentase kecil. Ini menggambarkan pola: 'Semakin banyak sekolah sadar peran Rapor Pendidikan sebagai sumber data utama perencanaan mutu'. Pada fase ini terlihat bahwa sekolah mulai mengenal fitur aplikasi, memahami pentingnya membaca indikator prioritas, mulai mengunduh dokumen untuk dianalisis secara internal

Memasuki pertengahan hingga akhir tahun, aktivitas mencapai stabilitas tinggi di angka:

  • Login: 75%
  • Unduh: 70-71%

Angka ini tampak pada tanggal 10–14 November 2025, yang juga beririsan dengan banyaknya kegiatan advokasi, bimbingan teknis yang berhubungan dengan Rapor Pendidikan oleh BBPMP Provinsi Sumatera Barat.

Artinya: Advokasi, bimbingan teknis terbukti berpengaruh kuat terhadap penggunaan aplikasi oleh satuan pendidikan.

Sekolah yang sebelumnya pasif menjadi jauh lebih aktif setelah diberikan pemahaman, dukungan teknis dan arah penggunaan data dalam perencanaan program.

2. Gap  Login vs Unduh

Sepanjang data-set, selalu terlihat bahwa persentase login sedikit lebih tinggi daripada persentase unduh. Ini menunjukkan dua hal penting: (a) Sekolah sudah mulai masuk dan melihat data, tetapi belum semuanya memanfaatkan dokumen secara penuh. Beberapa mungkin hanya mengakses dashboard tanpa mengunduh detailnya, dan (b) kapasitas analisis data di sekolah masih beragam. Masih ada ruang untuk memperkuat literasi data sehingga semua sekolah tidak hanya membaca, tetapi benar-benar menelaah data dengan serius.

Jika memperhatikan puncak aktivitas yang stabil di atas 70%, dapat disimpulkan bahwa Satuan pendidikan lebih percaya diri menggunakan Rapor Pendidikan ketika mereka: paham cara membacanya, paham cara menggunakan data untuk menyusun rencana dan memiliki pengawas atau fasilitator yang mendampingi, memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan penggunaan aplikasi.

3. Kesimpulan Menarik

Data “Aktivitas Satuan Pendidikan dalam Aplikasi Rapor Pendidikan 2025” memperlihatkan perjalanan yang sangat positif:

  • Dari nol menjadi 75% tingkat aktivitas
  • Pergerakan naik konsisten menunjukkan arah yang benar
  • Intervensi pendampingan terbukti mendorong adopsi
  • Sekolah semakin memahami bahwa data adalah bahan bakar utama peningkatan mutu

Singkatnya:

Rapor Pendidikan bukan lagi sekadar aplikasi, tetapi telah menjadi budaya baru dalam perencanaan mutu di satuan pendidikan.***

 (Ariasdi -15 Nov 2025) 

BBPMP Provinsi Sumatera Barat Melahirkan Terobosan Mutu Pendidikan: Kisah di Balik Penyusunan Instrumen Penjaminan Mutu Satuan Pendidikan

 

Kepala BBPMP Provinsi Sumatera Barat yang di-wakili Kabag Umum Diansa Gunadi Thaib, SE, M.Comm., membuka secara resmi kegiatan penyusunan Instrumen Monitoring Penjaminan Mutu Satuan Pendidikan. 

Semangat untuk memperkuat mutu pendidikan kembali bergema di BBPMP Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 13–14 November 2025. Dalam dua hari penuh, para pengawas, perwakilan pemerintah daerah dari 19 kabupaten/kota, dari jenjang pendidikan PAUD, SD, SMP dan SMA: menghadirkan ekosistem pendampingan pendidikan yang lebih kuat, lebih terarah, dan lebih berkelanjutan.

Kegiatan yang bertajuk “Penyusunan Strategi, Edukasi, Supervisi dan Fasilitasi ke Pemerintah Daerah, Pendampingan Satuan Pendidikan dan Satuan Pendidikan” ini dibuka secara resmi oleh Kepala BBPMP Provinsi Sumatera Barat yang di wakili oleh Kabag Umum, Diansa Gunadi Thaib, SE. M.Comm.

Peningkatan mutu pendidikan tidak terjadi begitu saja. Ia memerlukan strategi yang matang, eksekusi yang efektif, serta kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah, pengawas sekolah, dan satuan pendidikan. Dari dokumen Struktur Program, kegiatan ini dirancang sebagai jawaban atas kebutuhan untuk memperkuat kapasitas daerah dalam mengelola dan mendampingi satuan pendidikan berbasis data—khususnya data Rapor Pendidikan, yang kini menjadi kompas utama dalam perencanaan pembangunan mutu.

Aktivitas Pengawas dalam mendiskusikan instrumen Monitoring Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan

Dua hari ini bukan sekadar sesi paparan. Peserta diajak membaca data dengan cermat untuk menemukan isu prioritas sebagai dasar penyusunan strategi. Data tidak lagi menjadi tumpukan angka, melainkan cerita tentang apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya.

Melalui diskusi kelompok dan latihan terstruktur, setiap daerah merancang strategi pendampingan yang kontekstual, sesuai kebutuhan nyata satuan pendidikan di wilayah masing-masing.

Pengawas satuan pendidikan kembali meneguhkan perannya sebagai penggerak SPMI di sekolah. Mereka mendalami teknik edukasi dan pembinaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif.

Presentasi hasil diskusi oleh kelompok 4 yang diwakili Imelda Yanti, Pengawas dari Kabupaten Tanah Datar

Supervisi dan observasi berbasis instrumen merupakan salah satu sesi paling krusial. Peserta belajar menyusun instrumen supervisi yang efektif, sehingga proses monitoring tidak lagi bersifat administratif, melainkan mendorong perubahan praktik pembelajaran di kelas.

Fasilitasi bukan hanya memberi solusi, tetapi membangun kesadaran. Pendampingan bukan hanya mendampingi, tetapi mengarahkan agar sekolah mampu menjadi pelaku utama peningkatan mutu.

Hasil monumental dari rangkaian kegiatan ini adalah lahirnya sebuah produk penting: Instrumen Monitoring, Evaluasi, Supervisi dan Pendampingan (MES-P) oleh Pengawas kepada Satuan Pendidikan.

Instrumen ini bukan dokumen biasa—ia adalah panduan kerja nyata yang memastikan bahwa Rapor Pendidikan digunakan sebagai data dasar dalam seluruh proses perencanaan peningkatan mutu.

Dengan instrumen ini, pengawas kini memiliki perangkat yang lebih terukur dan terarah dalam mendampingi sekolah. Sementara satuan pendidikan memperoleh bimbingan yang lebih sistematis, sehingga upaya perbaikan mutu tidak lagi berjalan tanpa arah.

Kegiatan ditutup dengan presentasi instrumen monitoring dari setiap kelompok. Di sini terlihat jelas bahwa para peserta tidak hanya memahami materi, tetapi siap kembali ke daerah masing-masing untuk mengimplementasikan apa yang telah dipelajari.

Dari BBPMP Sumatera Barat, para peserta pulang membawa visi yang teguh: membangun pendidikan yang lebih berkualitas melalui strategi yang terencana, supervisi yang bermakna, dan pendampingan yang kolaboratif.

"Kegiatan ini bukan sekadar acara, tetapi penanda lahirnya gerakan baru dalam peningkatan mutu pendidikan Sumatera Barat—gerakan yang ber-akar pada data, dikembangkan melalui kolaborasi, dan bergerak dengan semangat perubahan," ujar Diansa Gunadi Thaib, sekaligus menutup kegiatan secara resmi.*** (Ariasdi, 14 Nov 2025)

Foto bersama peserta kegiatan


Thursday, October 23, 2025

Sumatera Barat Peringkat 5 Peta Mutu Pendidikan Nasional 2025

 

Grafik Rata-rata Skor SNP Berdasarkan Provinsi 2025

Grafik Rata-rata Skor SNP Berdasarkan Provinsi 2025 menunjukkan gambaran mutu pendidikan nasional yang masih beragam antar wilayah. Secara keseluruhan, rata-rata nasional berada pada skor 61,8, yang menandakan bahwa sebagian besar provinsi telah mencapai tingkat pemenuhan standar yang cukup baik, namun masih perlu peningkatan di beberapa aspek utama.

Provinsi DI Yogyakarta (66,4)Bali (65,9), dan DKI Jakarta (65,9) menempati posisi teratas. Capaian ini menunjukkan pengelolaan pendidikan yang efektif, dukungan kebijakan daerah yang kuat, serta pemerataan akses terhadap tenaga pendidik dan fasilitas belajar.

Selain itu, Jawa Tengah (65,6) dan Sumatera Barat (64,8) juga menunjukkan kinerja yang konsisten, didukung oleh budaya literasi dan inovasi pendidikan yang baik.

Beberapa provinsi seperti Sulawesi SelatanKalimantan Timur, dan Sumatera Selatan memiliki skor di kisaran 61–63. Hal ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan mutu sudah berjalan, namun masih terdapat kesenjangan antar kabupaten/kota di dalam provinsi tersebut.

Beberapa provinsi di kawasan timur Indonesia, khususnya Papua Pegunungan (25,4)Papua Tengah (44,5), dan Papua (50,9), mencatat skor terendah. Faktor yang memengaruhi rendahnya skor antara lain keterbatasan akses geografis, distribusi guru yang belum merata, serta keterbatasan fasilitas pendidikan dan infrastruktur digital. Kondisi ini mengindikasikan perlunya intervensi kebijakan yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.

Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat kesenjangan signifikan antara provinsi dengan skor tertinggi dan terendah, mencapai lebih dari 40 poin. Hal ini menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan seragam.

Beberapa langkah strategis yang perlu diperkuat antara lain:
  • Pendekatan berbasis konteks daerah, terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
  • Pemanfaatan data Rapor Pendidikan untuk perencanaan dan intervensi berbasis bukti.
  • Penguatan kapasitas guru dan kepala sekolah melalui program pelatihan berkelanjutan.
  • Sinergi antar pemangku kepentingan – pemerintah daerah, BBPMP/BPMP, dan satuan pendidikan – untuk mempercepat pemerataan mutu.

    (Ariasdi - BBPMP Sumbar)***

Wednesday, October 22, 2025

Jumlah ATS di Sumatera Barat

 

Grafik Jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di setiap kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat.

Wilayah dengan Disparitas Tinggi

Grafik ini menyoroti daerah-daerah di Sumatera Barat yang memerlukan perhatian khusus dalam hal: Akses pendidikan, pencegahan putus sekolah, program penjangkauan dan pendidikan inklusif.
Data ini sangat penting untuk perencanaan kebijakan pendidikan di tingkat daerah dan provinsi.
  1. Kota Padang memiliki jumlah ATS tertinggi dengan 13.406 anak, menandakan kebutuhan serius terhadap intervensi pendidikan.
  2. Kabupaten Solok dan Pesisir Selatan juga memiliki jumlah ATS yang tinggi, masing-masing 11.381 dan 11.334 anak.
  3. Kota Sawahlunto, Padang Panjang, dan Kota Solok mencatat jumlah ATS terendah (di bawah 1.100 anak), menunjukkan cakupan pendidikan yang relatif baik.
  4. Perbedaan sangat besar antara kota/kabupaten satu dengan yang lain menggambarkan ketimpangan dalam akses pendidikan dasar dan menengah.
Keterkaitan Anak Tidak Sekolah dengan Literasi, Numerasi, dan Jenjang Pendidikan

Berdasarkan grafik tersebut, terdapat data:
  • Kab. Agam → -20,24
  • Kota Pariaman → -19,25
  • Kab. Pesisir Selatan → -10,69
  • Kota Sawahlunto → -9,96
  • Kab. Solok Selatan → -7,82
  • Kab. Tanah Datar → -7,46

Di daerah ini, justru anak-anak di desa lebih banyak berpartisipasi sekolah dibandingkan anak-anak kota. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kepadatan penduduk kota yang tinggi, keterbatasan fasilitas PAUD di wilayah urban pinggiran, atau preferensi keluarga di kota untuk menunda pendidikan formal.

Jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) yang tinggi menunjukkan bahwa banyak anak usia sekolah tidak mendapatkan layanan pendidikan formal. Hal ini berdampak langsung pada (1) tidak terbentuknya kemampuan literasi dasar (membaca dan memahami informasi) dan (2) tidak berkembangnya kemampuan numerasi (menghitung, menalar secara kuantitatif).

Anak-anak yang tidak bersekolah atau putus sekolah akan kesulitan mencapai kompetensi minimum, bahkan untuk standar dasar seperti membaca teks sederhana dan memahaminya (literasi). Melakukan operasi matematika dasar dan menerapkannya dalam konteks sehari-hari (numerasi).

Daerah dengan ATS tinggi seperti Kota Padang, Kab. Solok, dan Pesisir Selatan sangat mungkin menunjukkan capaian literasi dan numerasi yang rendah, karena: banyak anak tidak menyelesaikan pendidikan dasar dan terdapat hambatan struktural dan sosial dalam menjangkau layanan pendidikan berkualitas.

Jumlah ATS juga bisa dianalisis menurut jenjang:
Di jenjang SD (Sekolah Dasar), ATS berarti anak tidak mendapat fondasi literasi dan numerasi.
Di jenjang SMP dan SMA/SMK, ATS menunjukkan tingkat putus sekolah, yang menghambat pendalaman literasi dan numerasi tingkat lanjut.

Sebagai contoh:
Jika ATS tinggi pada usia 13–15 tahun (usia SMP), maka kemampuan literasi/numerasi lanjutan tidak akan terbentuk. Hal ini akan berdampak pada kesiapan kerja, keterampilan hidup, dan keberlanjutan pendidikan vokasi.

(Ariasdi - BBPMP Sumbar)***

Tuesday, January 7, 2025

Lonjakan Adopsi Rapor Pendidikan Sumbar 2024: "Analisis Komparasi Akses dan Aktivasi Sistem Rapor Pendidikan Tahun 2023–2024"

 Ariasdi (PIC PDM-04)

Data capaian aktivitas satuan pendidikan dalam login dan unduh Rapor Pendidikan, antara tahun 2023 dengan 2024

Berdasarkan tabel di atas, secara umum terjadi peningkatan positif dan merata pada semua indikator di tahun 2024 dibandingkan 2023. Data menunjukkan bahwa upaya digitalisasi penjaminan mutu pendidikan yang difasilitasi oleh BBPMP Sumatera Barat melalui Widyaprada berhasil memperkuat:
  • kepemilikan dan aktivasi akun belajar.id,
  • akses login ke Rapor Pendidikan, dan
  • kegiatan unduhan laporan mutu oleh satuan pendidikan.

Perbaikan paling menonjol terjadi pada jenjang PAUD dan PKBM, dua jenjang yang sebelumnya memiliki partisipasi rendah.

 Jenjang PAUD

Peningkatan signifikan:

Login naik dari 90.55% → 94.50% (+3.95 poin)

Unduh naik dari 89.96% → 94.17% (+4.21 poin)
Peningkatan ini menunjukkan hasil nyata dari pendampingan intensif dan penyediaan panduan teknis melalui portal Rapor Pendidikan Sumbar.

PAUD menjadi jenjang yang paling berkembang dibanding tahun sebelumnya, meskipun masih di bawah jenjang dasar dan menengah.

Jenjang SD

Hampir mencapai kesempurnaan digitalisasi (100%) di semua indikator.
Login dan unduh stabil di atas 99,9%, tanpa penurunan berarti.

SD menunjukkan konsistensi implementasi Rapor Pendidikan, menjadi teladan bagi jenjang lain dalam hal kedisiplinan administratif dan literasi data.

Jenjang SMP

Nilai hampir stagnan, sedikit fluktuasi (Login 99.88% → 99.77%).
Tidak ada penurunan signifikan; data menunjukkan bahwa SMP sudah mencapai plateau (stabil pada titik optimal).

SMP tetap menjadi jenjang paling siap secara digital.

Jenjang SMA dan SMK

SMA sedikit menurun (Login 100% → 99.70%), begitu pula SMK (99.49% → 99.52%, relatif stabil).

Penurunan kecil ini bersifat teknis, kemungkinan akibat sinkronisasi ulang akun NPSN atau perubahan sistem login nasional pada 2024.

Secara umum, tidak menunjukkan masalah signifikan.

Jenjang SLB

Konsisten sempurna di semua indikator (100%) pada dua tahun berturut-turut.
Menunjukkan bahwa satuan pendidikan luar biasa di Sumatera Barat memiliki tata kelola digital yang sangat baik.

Jenjang PKBM dan SKB

Data baru muncul di 2024.

PKBM: Aktivasi 98.40%, Login 83.51%, Unduh 80.85%.
SKB: Seluruh indikator mencapai 100%.

Ini menunjukkan perluasan cakupan sistem ke pendidikan nonformal di tahun 2024.
Meski capaian PKBM belum setinggi sekolah formal, angka di atas 80% menandakan awal yang sangat positif.

Interpretasi Umum

Peningkatan rata-rata di seluruh jenjang pendidikan mencapai 2–4 poin persentase.
Peningkatan terbesar terjadi di PAUD dan PKBM, dua jenjang yang sebelumnya lemah secara digital.
Tahun 2024 mencerminkan tahap konsolidasi digitalisasi mutu pendidikan, di mana hampir seluruh satuan pendidikan sudah mengintegrasikan akun belajar.id dan aktif mengakses Rapor Pendidikan.

Faktor Pendorong Keberhasilan Tahun 2024

  1. Intervensi berkelanjutan BBPMP Sumatera Barat melalui monitoring dan pelaporan berbasis data melalui portal raporpendidikan.blogspot.com.
  2. Peran Widyaprada dalam melakukan advokasi, sosialisasi, pendampingan.
  3. Pemanfaatan portal daerah dan sistem komunikasi digital yang menjangkau satuan pendidikan secara cepat.
  4. Sinergi lintas jenjang dan lintas lembaga, terutama perluasan layanan ke PKBM dan SKB.

Kesimpulan Analisis Komparatif

Transformasi digital penjaminan mutu di Sumatera Barat antara 2023 dan 2024 menunjukkan peningkatan signifikan.
Seluruh jenjang pendidikan telah mencapai tingkat akses dan aktivasi di atas 94%, dengan stabilitas luar biasa di SD, SMP, dan SLB.
Kenaikan paling tajam terjadi di PAUD, sedangkan keberhasilan ekspansi ke PKBM dan SKB menandai perluasan jangkauan kebijakan digitalisasi mutu pendidikan ke sektor nonformal.

Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan bahwa Sumatera Barat berhasil menjadi salah satu provinsi terdepan dalam implementasi sistem Rapor Pendidikan nasional — berkat strategi kolaboratif BBPMP dan Widyaprada dalam memanfaatkan teknologi untuk memperkuat budaya mutu berbasis data.***